Diposkan pada Kimia

Laporan Observasi Sungai Pakis

LAPORAN OBSERVASI SUNGAI PAKIS

KIMIA AIR

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Pelajaran Analisis Kimia Terapan

Guru Pengampu :

Endang Sawitri,ST

air-1

                                                                        Disusun Oleh:

1. Khoirul Fatihin (21)

2. M.Yusril Izza F. (24)

3. Ratih Puji Lestari (32)

4. Sri Rusmiyati (34)

5. Vina Khiyatun N. (35)

 

SMK TUNAS HARAPAN PATI

Tahun Pelajaran 2015/2016

KATA PENGANTAR

          Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT. karena atas kehendak-Nyalah Laporan Observasi ini dapat terselesaikan. Shalawat serta salam senantiasa kita senandungkan  kepada sang revolusioner sejati Islam, Nabi Muhammad saw.

            Dalam laporan ini penyusun membahas hasil observasi kelompok mengenai kualitas air sungai di daerah sekitar tempat tinggal, yaitu sungai Sawunggiling. Adapun tujuan penyusunan laporan ini adalah untuk memenuhi tugas mata pelajaran Analisis Kimia Terpadu.

            Pada kesempatan kali ini, saya mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah meluangkan waktunya untuk membantu saya dalam menyelesaikan makalah ini, diantaranya :

  1. Ibu Endang Sawitri,ST selaku guru dalam mapel tersebut.
  2. Kedua orangtua yang selalu memberi motivasi baik moril maupun materiil.
  3. Teman-teman atas kerja samanya dalam penyusunan laporan observasi ini.

           Laporan ini tidak lepas dari kekhilafan dan kekurangan. Karenanya segala kritik dan saran untuk penyempurnaan laporan ini di masa yang akan datang sangat penyusun nantikan. Mudah-mudahan laporan ini dapat bermanfaat bukan hanya bagi kalangan akademis, namun juga bagi masyarakat pada umumnya yang ingin menambah wawasan pengetahuannya.

         Akhir kata, semoga laporan ini dapat digunakan dan dimanfaatkan bagi kita semua. Amin.

Pati, 23 Agustus 2015.

              Penyusun

 DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………i

DAFTAR ISI…………..…………………………………………………………….……..ii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang………………………………………………………………….. iv

1.2       Rumusan Masalah……………………………………………………………….iv

1.3       Tujuan……..……………………..…………….………………………………….iv

1.4       Manfaat…………………………………………………………………………….iv

1.5       Hipotesis……………………………………………………………………………v

1.6       Lokasi Observasi………………………………………………………………….v

1.7       Waktu Pelaksanaan………………………………………………………………v

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1       Pengertian Air……………………………………………………………………..1

2.2       Sifat-sifat Fisika dan Kimia ……………………………………………………1

2.3       Fungsi Air Bagi Tubuh Manusia  ………………………………………………2

2.4       Fungsi Air Dalam Kehidupan…………………………………………………..2

2.5       Kualitas Air…………………………………………………………………………5

2.6       Pengertian Pencemaran Lingkungan…………………………………………9

2.7       Pengertian Sungai ……………………………………………………………….10

2.8       Pencemaran Air atau Sungai…………………………………………………..11

BAB III. METODE PENELITIAN

3.1       Variabel Penelitian……………………………………………………………….16

3.2       Metode Pengumpulan Data…………………………………………………….16

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1       Hasil Pengamatan………………………………………………………………..17

4.2       Pembahasan……………………………………………………………………….19

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1   Kesimpulan…………………………………………………………………………..22

5.2   Saran…………………………………………………………………………………..22

DAFTAR PUSTAKA…….………………………………………………….………………23

LAMPIRAN………………………………………………………………………………….24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1   LATAR BELAKANG

                     Observasi merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dalam mengetahui berbagai hal. Dalam hal ini kami akan melakukan observasi tentang pencemaran air sungai sebagai salah satu tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran geografi dan penglihatan kami mengenai pencemaran air sungai yang makin tercemar

                     Air yang kita gunakan seharusnya berstandar 3B, tidak berwarna, berbau dan beracun. Tetapi, banyak kami lihat air yang berwarna keruh dan berbau. Dan sering kali bercampur dengan benda-benda sampah seperti, plastik,sampah organik,kotoran manusia,botol-botol dan sebagainya. Keadaan seperti ini dapat menyebabkan dampak negatif bagi masyarat, dan dari situlah kami sebagai murid dan juga sebagai komponen masyarakat, merasa tertarik untuk meneliti jauh mengenai seberapa tinggi tingkat pencemaran yang telah terjadi pada air sungai sekitar.

1.2    RUMUSAN MASALAH

               Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas maka, dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah kualitas sungai Sawunggaling ?
  2. Bagaimanakah kesadaran masyarakat terhadap kualitas sungai ?
  3. Bagaimana upaya pemerintah untuk mempertahankan kualitas sungai?

1.3     TUJUAN

            Berdasarkan rumusan permasalahan diatas, maka tujuan penyusunan laporan observasi ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui kualitas air sungai (Sawunggaling).
  2. Untuk mengetahui kesadaran masyarakat terhadap kualitas ai sungai.
  3. Untuk mengetahui upaya pemerintah untuk mempertahankan kualitas air sungai.

1.4    MANFAAT

  1. Bagi peneliti:

Mengetahui penyebab pencemaran air sungai.

Mengetahui kualitas air sungai.

Dapat menghimbau masyarakat tentang bahayanya pencemaran air sungai.

2.Bagi masyarakat:

Agar masyarakat lebih menjaga kelestarian lingkungan dan kualitas air sungai yang berguna dan bermanfaat untuk kebutuhan sehari-hari.

Jika air sungai terjaga kebersihannya tidak akan terjangkit penyakit.

Supaya masyarakat menyadari pentingnya sungai.

3.Bagi industri:

 Agar tidak membuang limbahnya pada aliran sungai terdekat.

Agar dapat mengelola limbah terlebih dahulu sebelum dibuang pada aliran sungai.

1.5       HIPOTESIS

                     Pencemaran air berdampak besar terhadap penurunan kualitas air. Jadi, Semakin banyak limbah disungai, maka semakin berkurangnya kualitas air sungai.

Seperti yang terjadi di sungai Sawunggaling yang pencemaranya di sebabkan oleh:

  1. Limbah dari pabrik gula.
  2. Limbah rumah tangga.

Dari kedua penyebab pencemaran tersebut yang paling parah dampaknya bagi kualitas air sungai tersebut ialah limbah dari pabrik gula Pakis.

Sehingga air perlu dijaga,dilindungi,dan dilestarikan. Karena sangat penting bagi seluruh kehidupan.

1.6       LOKASI OBSERVASI

 Nama  Sungai     : Sawunggaling

 Alamat                : Ds. Pondohan,  kec.Tayu  kab.Pati

1.7       WAKTU PELAKSANAAN

Hari                      : Minggu

Tanggal                : 16 Agustus 2015

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Pengertian Air

            Air adalah salah satu sumber kekuatan dan energi yang ada di bumi ini. Air merupakan sebuah elemen dan partikel cair. Tanpa air, semua makhluk hidup tidak dapat bertahan hidup dan akan mati. Manfaat Air Dalam kehidupan contohnya adalah Air terjun. Air terjun mengandung tenaga gerak yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, misalnya untuk pembangkit tenaga Listrik. Bendungan (dam) akan menahan aliran air dan membentuk danau (waduk). Air yang berada di waduk disalurkan lewat terowongan ke kincir air khusus (Turbin). Selanjutnya, turbin menggerakan dinamo (generator) yang menghasilkan aliran listrik sangat besar. Tenaga listrik tersebut dialirkan ke kota dan desa, misalnya untuk menggerakan mesin di pabrik serta penerangan di rumah, sekolah, dan pertokoan.

                Pengertian Air atau Definisi Air adalah zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71% permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kubik (330 juta mil³) tersedia di bumi. Jenis – Jenis Air sendiri di bagi menjadi 2 macam.
Penempatan Air sebagian besar terdapat di laut / air asin dan pada lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air dan lautan es, Air dalam obyek-obyek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapan, hujan dan aliran air di atas permukaan tanah (runoff, meliputi mata air, muara, sungai) menuju laut.
Air yang bersih sangat penting bagi kehidupan manusia dan alam sekitar, Di banyak tempat di dunia terjadi kekurangan persediaan air. Selain di bumi, sejumlah besar air juga diperkirakan terdapat pada kutub utara dan selatan planet Mars, serta pada bulan-bulan Eropa dan Enceladus. Air dapat berwujud padatan (es), cairan (air) dan gas (uap air). Air merupakan satu-satunya zat yang secara alami terdapat di permukaan bumi dalam ketiga wujudnya tersebut.

             Air merupakan satu-satunya zat yang secara alami terdapat di permukaan Bumi dalam ketiga wujudnya tersebut. Pengelolaan sumber daya air yang kurang baik dapat menyebakan kekurangan air, monopolisasi serta privatisasi dan bahkan menyulut konflik.  Indonesia telah memiliki undang-undang yang mengatur sumber daya air sejak tahun 2004, yakni Undang Undang nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

2.2       Sifat-sifat Kimia dan Fisika

Air
 knair2
Informasi dan sifat-sifat
Nama sistematis air
Nama alternatif aqua, dihidrogen monoksida,
Hidrogen hidroksida
Rumus molekul H2O
Massa molar 18.0153 g/mol
Densitas dan fase 0.998 g/cm³ (cariran pada 20 °C)
0.92 g/cm³ (padatan)
Titik lebur °C (273.15 K) (32 °F)
Titik didih 100 °C (373.15 K) (212 °F)
Kalor jenis 4184 J/(kg·K) (cairan pada 20 °C)

 

2.3   Fungsi Air Bagi Tubuh Manusia

            Air dapat diperoleh tubuh baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung air diperoleh dari air minum, sedangkan secara tidak langsung dari makanan yang kita makan. Seorang dewasa memerlukan air sekitar 2 liter per hari.

Tubuh kita kehilangan air melalui  urine, keringat,  feses, dan pernapasan. Jika kehilangan air dari tubuh tidak digantikan, maka dapat menyebabkan  dehidrasi atau tubuh kekurangan air. Dehidrasi dapat menyebabkan kejang  otot dan tubuh menjadi lemah.

Air terdapat dalam jumlah besar pada tubuh manusia, meskipun air bukan zat  gizi.

Sekitar 60 – 70% berat tubuh kita adalah air.

 Fungsi air bagi tubuh adalah sebagai berikut:

– Sebagai pelarut reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh.

– Sebagai pelarut zat-zat sisa yang keluar dari tubuh dalam bentuk larutan.

– Sebagai pengangkut hasil metabolisme ke seluruh tubuh (air merupakan bagian terbesar yang menyusun darah).

– Mempertahankan suhu tubuh (37 °C).

2.4       Fungsi Air Dalam Kehidupan

  1. Kehidupan di dalam laut.

            Dari sudut pandang biologi, air memiliki sifat-sifat yang penting untuk adanya kehidupan. Air dapat memunculkan reaksi yang dapat membuat senyawa organik melakukan replikasi. Semua makhluk hidup yang diketahui memiliki ketergantungan terhadap air. Air merupakan zat pelarut yang penting untuk makhluk hidup dan adalah bagian penting dalam proses metabolisme. Air juga dibutuhkan dalam fotosintesis dan respirasi. Fotosintesis menggunakan cahaya matahari untuk memisahkan atom hidroden dengan oksigen. Hidrogen akan digunakan untuk membentuk glukosa dan oksigen akan dilepas ke udara.

2.         Makhluk air

            Perairan Bumi dipenuhi dengan berbagai macam kehidupan. Semua makhluk hidup pertama di Bumi ini berasal dari perairan. Hampir semua ikan hidup di dalam air, selain itu, mamalia seperi lumba-lumba dan ikan paus juga hidup di dalam air. Hewan-hewan sepertiamfibi menghabiskan sebagian hidupnya di dalam air. Bahkan, beberapa reptil seperti ular dan buaya hidup di perairan dangkal dan lautan. Tumbuhan laut seperti alga dan rumput laut menjadi sumber makanan ekosistem perairan. Di samudera, plankton menjadi sumber makanan utama para ikan.

3.         Air minum

            Tubuh manusia terdiri dari 55% sampai 78% air, tergantung dari ukuran badan. Agar dapat berfungsi dengan baik, tubuh manusia membutuhkan antara satu sampai tujuh liter air setiap hari untuk menghindari dehidrasi; jumlah pastinya bergantung pada tingkat aktivitas, suhukelembaban, dan beberapa faktor lainnya. Selain dari air minum, manusia mendapatkan cairan dari makanan dan minuman lain selain air. Sebagian besar orang percaya bahwa manusia membutuhkan 8–10 gelas (sekitar dua liter) per hari, namun hasil penelitian yang diterbitkan Universitas Pennsylvania pada tahun 2008 menunjukkan bahwa konsumsi sejumlah 8 gelas tersebut tidak terbukti banyak membantu dalam menyehatkan tubuh. Malah kadang-kadang untuk beberapa orang, jika meminum air lebih banyak atau berlebihan dari yang dianjurkan dapat menyebabkan ketergantungan. Literatur medis lainnya menyarankan konsumsi satu liter air per hari, dengan tambahan bila berolahraga atau pada cuaca yang panas. Minum air putih memang menyehatkan, tetapi kalau berlebihan dapat menyebabkan hiponatremia yaitu ketika natrium dalam darah menjadi terlalu encer.

  1. Pelarut          

            Pelarut digunakan sehari-hari untuk mencuci, contohnya mencuci tubuh manusia, pakaian, lantai, mobil, makanan, dan hewan. Selain itu, limbah rumah tangga juga dibawa oleh air melalui saluran pembuangan. Pada negara-negara industri, sebagian besar air terpakai sebagai pelarut. Air dapat memfasilitasi proses biologi yang melarutkan limbahMikroorganisme yang ada di dalam air dapat membantu memecah limbah menjadi zat-zat dengan tingkat polusiyang lebih rendah.

5.         Zona biologis

            Air merupakan cairan singular, oleh karena kapasitasnya untuk membentuk jaringan molekul 3 dimensi dengan ikatan hidrogen yang mutual. Hal ini disebabkan karena setiap molekul air mempunyai 4 muatan fraksional dengan arah tetrahedron, 2 muatan positif dari kedua atom hidrogen dan dua muatan negatif dari atom oksigen. Akibatnya, setiap molekul air dapat membentuk 4 ikatan hidrogen dengan molekul disekitarnya. Sebagai contoh, sebuah atom hidrogen yang terletak di antara dua atom oksigen, akan membentuk satu ikatan kovalen dengan satu atom oksigen dan satu ikatan hidrogen dengan atom oksigen lainnya, seperti yang terjadi pada es. Perubahan densitas molekul air akan berpengaruh pada kemampuannya untuk melarutkan partikel. Oleh karena sifat muatan fraksional molekul, pada umumnya, air merupakan zat pelarut yang baik untuk partikel bermuatan atau ion, namun tidak bagi senyawa hidrokarbon.

            Konsep tentang sel sebagai larutan yang terbalut membran, pertama kali dipelajari oleh ilmuwan Rusia bernama Troschin pada tahun 1956. Pada monografnyaProblems of Cell Permeabilitytesis Troschin mengatakan bahwa partisi larutan yang terjadi antara lingkungan intraselular dan ekstraselular tidak hanya ditentukan oleh permeabilitas membran, namun terjadi akumulasi larutan tertentu di dalam protoplasma, sehingga membentuk larutan gel yang berbeda dengan air murni.

            Pada tahun 1962, Ling melalui monografnya, A physical theory of the living state, mengutarakan bahwa air yang terkandung di dalam sel mengalami polarisasi menjadi lapisan-lapisan yang menyelimuti permukaan protein dan merupakan pelarut yang buruk bagi ion. Ion K+ diserap oleh sel normal, sebab gugus karboksil dari protein cenderung untuk menarik K+ daripada ion Na+. Teori ini, dikenal sebagai hipotesis induksi-asosiasi juga mengutarakan tidak adanya pompa kationATPase, yang terikat pada membran sel, dan distribusi semua larutan ditentukan oleh kombinasi dari gaya tarik menarik antara masing-masing protein dengan modifikasi sifat larutan air dalam sel. Hasil dari pengukuranNMR memang menunjukkan penurunan mobilitas air di dalam sel namun dengan cepat terdifusi dengan molekul air normal. Hal ini kemudian dikenal sebagai model two-fraction, fast-exchange.

            Keberadaan pompa kation yang digerakkan oleh ATP pada membran sel, terus menjadi bahan perdebatan, sejalan dengan perdebatan tentang karakteristik cairan di dalam sitoplasma dan air normal pada umumnya. Argumentasi terkuat yang menentang teori mengenai jenis air yang khusus di dalam sel, berasal dari kalangan ahli kimiawan fisis. Mereka berpendapat bahwa air di dalam sel tidak mungkin berbeda dengan air normal, sehingga perubahan struktur dan karakter air intraselular juga akan dialami dengan air ekstraselular. Pendapat ini didasarkan pada pemikiran bahwa, meskipun jika pompa kation benar ada terikat pada membran sel, pompa tersebut hanya menciptakan kesetimbangan osmotik selular yang memisahkan satu larutan dari larutan lain, namun tidak bagi air. Air dikatakan memiliki kesetimbangan sendiri yang tidak dapat dibatasi oleh membran sel.

            Para ahli lain yang berpendapat bahwa air di dalam sel sangat berbeda dengan air pada umumnya. Air yang menjadi tidak bebas bergerak oleh karena pengaruh permukaan ionik, disebut sebagai air berikat (bahasa Inggrisbound water), sedangkan air di luar jangkauan pengaruh ion tersebut disebut air bebas (bahasa Inggrisbulk water).

            Air berikat dapat segera melarutkan ion, oleh karena tiap jenis ion akan segera tertarik oleh masing-masing muatan fraksional molekul air, sehingga kation dan anion dapat berada berdekatan tanpa harus membentuk garam. Ion lebih mudah terhidrasi oleh air yang reaktif, padat dengan ikatan lemah, daripada air inert tidak padat dengan daya ikat kuat. Hal ini menciptakan zona air, sebagai contoh, kation kecil yang sangat terhidrasi akan cenderung terakumulasi pada fase air yang lebih padat, sedangkan kation yang lebih besar akan cenderung terakumulasi pada fase air yang lebih renggang, dan menciptakan partisi ion seperti serial Hofmeister sebagai berikut:

Mg2+ > Ca2+ > H+ >> Na+

NH+ > Cs+ > Rb+ > K+

ATP3- >> ATP2- = ADP2- = HPO42-

I > Br > Cl > H2PO4

  • densitas air berikat semakin tinggi ke arah kanan.

            Interaksi antara molekul air berikat dan gugus ionik diasumsikan terjadi pada rentang jarak yang pendek, sehingga atom hidrogen terorientasi ke arah anion dan menghambat interaksi antara populasi air berikat dengan air bebas. Orientasi molekul air berikat semakin terbatas permukaan molekul polielektrolit bermuatan negatif antara lain DNARNA,asam hialorunatkondroitin sulfat, dan jenis biopolimer bermuatan lain. Energi elektrostatik antara molekul biopolimer bermuatan sama yang berdesakan akan menciptakan gayahidrasi yang mendorong molekul air bebas keluar dari dalam sitoplasma.

            Pada umumnya, konsenstrasi larutan polielektrolit yang cukup tinggi akan membentuk gel. Misalnya gel agarose atau gel dari asam hialuronat yang mengandung 99,9% air dari total berat gel. Tertahannya molekul air di dalam struktur kristal gel merupakan salah satu contoh kecenderungan alami setiap komponen dari suatu sistem untuk bercampur dengan merata. Molekul air dapat terlepas dari gel sebagai respon dari tekanan udara, peningkatan suhu atau melalui mekanisme penguapan, namun dengan turunnya rasio kandungan air, daya ikat ionik yang terjadi antara molekul zat terlarut yang menahan molekul air akan semakin kuat.

            Meskipun demikian, pendekatan ionik seperti ini masih belum dapat menjelaskan beberapa fenomena anomali larutan seperti,

            Fenomena anomali larutan ini dianggap terjadi pada rentang jarak jauh yang berada di luar domain pendekatan ionik.

Energi pada molekul air menjadi tinggi ketika ikatan hidrogen yang dimiliki menjadi tidak maksimal, seperti saat molekul air berada dekat dengan permukaan atau gugus hidrokarbon. Senyawa hidrokarbon kemudian disebut bersifat hidrofobik sebab tidak membentuk ikatan hidrogen dengan molekul air. Daya ikat hidrogen pada kondisi ini akan menembus beberapa zona air dan partisi ion, sehingga dikatakan bahwa sebagai karakter air pada rentang jarak jauh. Pada rentang ini, molekul garam seperti Na2SO4sodium asetat dan sodium fosfat akan memiliki kecenderungan untuk terurai menjadi kation Na+ dan anionnya.

2.5       Kualitas Air

  1. Pengertian Kualitas Air

            Kualitas air adalah kondisi kalitatif air yang diukur dan atau di uji berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 tahun 2003). Kualitas air dapat dinyatakan dengan parameter kualitas air. Parameter ini meliputi parameter fisik, kimia, dan mikrobiologis(Masduqi,2009).

            Menurut Acehpedia (2010), kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengujian tertentu terhadap air tersebut. Pengujian yang dilakukan adalah uji kimia, fisik, biologi, atau uji kenampakan (bau dan warna). Pengelolaan kualitas air adalah upaya pemaliharaan air sehingga tercapai kualitas air yang diinginkan sesuai peruntukannya untuk menjamin agar kondisi air tetap dalam kondisi alamiahnya.

  1. Hubungan Antar Kualitas Air

            Menurut Lesmana (2001), suhu pada air mempengaruhi kecepatan reaksi kimia, baik dalam media luar maupun dalam tubuh ikan.  Suhu makin naik, maka reaksi kimia akan ssemakin cepat, sedangkan konsentrasi gas akan semakin turun, termasuk oksigen. Akibatnya, ikan akan membuat reaksi toleran dan tidak toleran. Naiknya suhu, akan berpengaruh pada salinitas, sehingga ikan akan melakukan prosess osmoregulasi. Oleh ikan dari daerah air payau akan malakukan yoleransi yang tinggi dibandingkan ikan laut dan ikan tawar.

            Manurut Anonymaus(2010), laju peningkatan pH akan dilakukan oleh nilai pH awal. Sebagai contoh : kebutuhan jumlah ion karbonat perlu ditambahkan utuk meningkatkan satu satuan pH akan jauh lebih banyak apabila awalnya 6,3 dibandingkan hal yang sama dilakukan pada pH 7,5. kenaikan pH yang  akan terjadi diimbangi oleh kadar Co2 terlarut dalan air. Sehingga, Co2 akan menurunkan pH.

  1. Parameter Kualitas Air

Parameter Fisika

  1. Rasa

            Kualitas air bersih yang baik adalah tidak berasa. Rasa dapat ditimbulkan karena adanya zat organik atau bakteri.usur lain yang masuk kedalam badan air

  1. Bau

            Kualitas air bersih yang baik adalah tidak berbau, karena bau ini dapat ditimbulkan oleh pembusukan zat organik seperti bakteri serta kemungkinan akibat tidak langsung dari pencemaran lingkungan, terutama sistem sanitasi.

  1. Suhu

            Secara umum, kenaikan suhu perairan akan mengakibatkan kenaikan aktifitas biologi sehingga akan membentuk O2 lebih banyak  lagi. Kenaikan suhu perairan secara alamiah biasanya disebabkan oleh aktifitas penebangan vegetasi di sekitar sumber air tersebut, sehingga menyebabkan banyaknya cahaya matahari yang masuk tersebut mempengaruhi akuifer yang ada secara langsung atau tidak langsung.

  1. Kekeruhan

            Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan organik dan anorganik, kekeruhan juga dapat mewakili warna. Sedang dari segi estetika kekeruhan air dihubungkan dengan kemungkinan hadirnya pencemaran melalui buangan sedang warna air tergantung pada warna buangan yang memasuki badan air.

  1. TDS atua jumlah zat padat terlarut (total dissolved solids)

            Adalah bahan padat yang tertinggal sebagai residu pada penguapan dan pengeringan pada suhu 103 C – 105 C dalam portable water kebanyakan bahan bakar terdapat dalam bentuk terlarut yang terdiri dari garam anorganik selain itu juga gas-gas yang terlarut.

      Kandungan total solids pada portable water biasanya berkisaran antara 20 sampai dengan 1000 mg/l dan sebagai suatu pedoman kekerasan dari air akan meningkatnya total solids, disamping itu pada semua bahan cair jumlah koloit yang tidak terlarut dan bahan yang tersuspensi akan meningkat sesuai derajat dari pencemaran (sutrisno, 1991).

       Zat padat selalu terdapat dalam air dan kalau jumlahnya terlalu banyak tidak baik sebagai air minum, banyaknya zat padat yang diisyaratkan untuk air minum adalah kurang dari 500 mg/l. Pengaruh yang menyangkut aspek kesehatan dari pada penyimpangan kualias air minum dalam hal total solids ini yaitu bahwa air akan memberikan rasa tidak enak pada lidah dan rasa mual.

Parameter Kimia

a) pH

            Menurut Andayani(2005), pH adalah cerminan derajat keasaman yang diukur dari jumlah ion hidrogen menggunakan rumus pH = -log (H+). Air murni terdiri dari ion H+dan OH- dalam jumlah berimbang hingga Ph air murni biasa 7. Makin banyak banyak ion OH+dalam cairan makin rendah ion H+ dan makin tinggi pH. Cairan demikian disebut cairan alkalis. Sebaliknya, makin banyak H+ makin rendah PH dan cairan tersebut bersifat masam. Ph antara 7 – 9 sangat memadai kehidupan bagi air tambak. Namun, pada keadaan tertantu, dimana air dasar tambak memiliki potensi keasaman, pH air dapat turun hingga mencapai 4.

            pH air mempengaruhi tangkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad renik. Perairan asam akan kurang produktif, malah dapat membunuh hewan budidaya. Pada pH rendah( keasaman tinggi),  kandungan oksigan terlarut akan berkurang, sebagai akibatnya konsumsi oksigen menurun, aktivitas naik dan selera makan akan berkurang. Hal ini sebaliknya terjadi pada suasana basa. Atas dasar ini, maka usaha budidaya perairan akan berhasil baik dalam air dengan pH 6,5 – 9.0 dan kisaran optimal adalah ph 7,5 – 8,7(Kordi dan Andi,2009).

b) Oksigan Terlarut / DO

            Mnurut Wibisono (2005), konsentrasi gas oksigen sangat dipengaruhi oleh suhu, makin tinggi suhu, makin berkurang tingkat kelarutan oksigen. Dilaut, oksigen terlarut (Dissolved Oxygen / DO) berasal dari dua sumber, yakni dari atmosfer dan dari hasil proses fotosintesis fitoplankton dan berjenis tanaman laut. Keberadaan oksigen terlarut ini sangat memungkinkan untuk langsung dimanfaatkan bagi kebanyakan organisme untuk kehidupan, antara lain pada proses respirasi dimana oksigen diperlukan untuk pembakaran (metabolisme) bahan organik sehingga terbentuk energi yang diikuti dengan pembentukan Co2 dan H20.

            Oksigen yang diperlukan biota air untuk pernafasannya harus terlarut dalam air. Oksigen merupakan salah satu faktor pembatas, sehinnga bila ketersediaannya didalam air tidak mencukupi kebutuhan biota budidaya, maka segal aktivitas biota akan terhambat. Kebutuhan oksigen pada ikan mempunyai kepentingan pada dua aspek, yaitu kebutuhan lingkungan bagi spesies tertentu dan kebutuhan konsumtif yang terandung pada metabolisme ikan(Kordi dan Andi,2009).

c) CO2

            Karbondioksida (Co2), merupakan gas yang dibutuhkan oleh tumbuh-tumbuhan air renik maupun tinhkat tinggi untuk melakukan proses fotosintesis. Meskipun peranan karbondioksida sangat besar bagi kehidupan organisme air, namun kandungannya yang berlebihan sangat menganggu, bahkan menjadi racu secara langsung bagi biota budidaya, terutama dikolam dan ditambak(Kordi dan Andi,2009).

            Meskipun presentase karbondioksida di atmosfer relatif kecil, akan tetapi keberadaan karbondioksida di perairan relatif banyak,kerana karbondioksida memiliki kelarutan yang relatif banyak.

d) Amonia

            Makin tinggi pH, air tambak/kolam, daya racun amnia semakin meningkat, sebab sebagian besar berada dalam bentuk NH3, sedangkan amonia dalam molekul (NH3) lebih beracun daripada yang berbentuk ion (NH4+). Amonia dalam bentuk molekul dapat bagian membran sel lebih cepat daripada ion NH4+ (Kordi dan Andi,2009).

            Menurut Andayani(2005), sumber amonia dalam air kolam adalah eksresi amonia oleh  ikan dan crustacea. Jumlah amonia yang dieksresikan oleh ikan bisa diestimasikan dari penggunaan protei netto( Pertambahan protein pakan- protein ikan) dan protein prosentase dalam pakan dengan rumus :

Amonia – Nitrogen (g/kg pakan) = (1-0- NPU)(protein+6,25)(1000)

Keterangan :  NPU : Net protein Utilization /penggunaan protein netto

                        Protein : protein dalam pakan

                        6,25 : Rati rata-rata dari jumlah nitrogen.

e) Nitrat nitrogen

            Menurut Susana (2002), senyawa kimia nitrogen urea (N-urea) ,algae memanfaatkan senyawa tersebut untuk pertumbuhannya sebagai sumber nitrogen yang berasal dari senyawa nitrogen-organik. Beberapa bentuk senyawa nitrogen (organik dan anorganik) yang terdapat dalam perairan konsentrasinya lambat laun akan berubah bila didalamnya ada faktor yang mempengaruhinya sehingga antara lain akn menyebabkan suatu permasalahan tersendiri dalam perairan tersebut.

            Menurut Andayani(2005), konsentasi nitrogen organik di perairan yang tidak terpolusi sangat beraneka ragam. Bahkan konsentrasi amonia nitrogen tinggi pada kolam yang diberi pupuk daripada yang hanya biberi pakan. Nitrogen juga mengandung bahan organik terlarut. Konsentrsi organik nitrogan umumnya dibawah 1mg/liter pada perairan yang tidak polutan. Dan pada perairan yang planktonya blooming dapat meningkat menjadi 2-3 mg/liter.

f) Orthophospat

            Menurut Andayani (2005), orthophospat yang larut, dengan mudah tesedia bagi tanaman, tetapi ketersediaan bentuk-bentuk lain belum ditentukan dengan pasti. Konsentrasi fosfor dalam air sangat rendah : konsentasi ortophospate yang biasanya tidak lebih dari 5-20mg/liter dan jarang melebihi 1000mg/liter. Fosfat ditambahkan sebagai pupuk dalam kolam, pada awalnya tinggi orthophospat yang terlarut dalam air dan konsentrasi akan turun dalam beberapa hari setelah perlakuan.

            Menurut Muchtar (2002), fitoplankton merupakan salah satu parameter biolagi yang erat hubungannya dengan fosfat dan nitrat. Tinggi rendahnya kelimpahan fitoplankton disuatu perairan tergantung tergantung pada kandungan zat hara fosfat dan nitrat. Sama halnya seprti zat hara lainnya, kandungan fosfat dan nitrat disuatu perairan, secara alami terdapat  sesuai dengan kebutuhan organisme yang hidup diperairan tersebut.

2.4 Kualitas Air yang Baik

            Menurut O-fish (2010), ada lima syarat utama kualitas air yang baik untuk kehidupan ikan :

 Rendah kadar amonia dan nitrit

 Bersih secara kimiawi

 Memiliki pH, kesadahan, dan temperatur yang memadai

 Rendah kadar cemaran organik

 Stabil

Apabila persyaratan tersebut diatas dapat dijaga dan dipelihara dengan baik, maka ikan yang dipelihara mampu memelihara dirinya sendiri, terbebas dari berbagai penyakit, dan dapat berkembang biak dengan baik.

            Menurut Agromedia(2007), air yang baik untuk pertumbuhan lele dumbo adalah air bersih  yang berasal dari sungai, air hujan, dan air sumur. Pemanfaatan sumber air harus harus dikelola dengan baik terutama kualitas dan kuantitas. Kualitas air sangat mendukung pertumbuhan lele dumbo. Oleh karena itu, aor yang digunakan harus banyak mengandung zat hara, serta tidak tercemar olah racun dan zat rumah tangga lainnya.

2.5 Efek Kualitas Air

            Air dari alam atau natural water secara foundamental akan berbeda kondisinya dengan air dari tempat budidaya, terutama sistem tertutup yang menggunakan akuarium atau bak, berdasarkan sifat kimia maupun biologi. Jumlah ikan ditempat budidaya umumnya jauh lebih banyak dibandingkan jumlah air. Akibatnya, material hasil metrabolisme yang dikeluarkan ikan tidak dapat mengurai seimbang. Artinya, waktu penguraian metabolit secara alami tidak mencukupi karena jumlahnya cukup banyak. Oleh karena itu, air tidak dapat atau sulit kembali menjadi baik dan cenderung menghasilkan substannsi atau bahan metabolit yang berbahaya bagi ikan(Lesmana,2001).

            Menurut O-fish(2010), kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan suatu kagiatan atau keperluan tertentu. Dalam lingkup akuarium, kulitas air secara umum mengacu pada kandungan polutan atau cemaran yang terkandung dalam air dalam kaitannya untuk menunjang kehidupan ikan dan kondisi ekosstem yang memadai.

            Menurut Susanto(2002), suatu  limbah yang mengandung beban pencemar masuk ke lingkungan perairan dapat menyebabkan perubhan kualitas air. Salah satu efeknya adalah menurunya kadar oksigen terlarut yang berpengaruh terhadap fungsi fisiologis organisme akuatik. Air limbah memungkinkan mengandung mikroorganisme patogen atau bahan kimia beracun berbahaya yang dapat menyebabkan penyakit infeksi dan tersebar ke lingkungan.

2.6       Pengertian Pencemaran Lingkungan

           Pencemaran lingkungan atau polusi adalah proses masuknya polutan ke dalam suatu lingkungan sehingga dapat menurunkan kualitas lingkungan tersebut.
Menurut Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 tahun 1982, pencemaran lingkungan atau polusi adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya

       Polutan adalah suatu zat atau bahan yang kadarnya melebihi ambang batas serta berada pada waktu dan tempat yang tidak tepat, sehingga merupakan bahan pencemar lingkungan, misalnya: bahan kimia, debu, panas dan suara. Polutan tersebut dapat menyebabkan lingkungan menjadi tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan akhirnya malah merugikan manusia dan makhluk hidup lainnya.

    Berdasarkan lingkungan yang terkena polutan (tempat terjadinya), pencemaran lingkungan dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:

  1. Pencemaran air
  2. Pencemaran tanah
  3. Pencemaran udara

         Pencemaran lingkungan terjadi bila daur materi dalam lingkungan hidup mengalami perubahan, sehingga keseimbangan dalam hal struktur maupun fungsinya terganggu. Ketidakseimbangan struktur dan fungsi daur materi terjadi karena proses alam atau juga karena perbuatan manusia. Dalam abad modern ini banyak kegiatan atau perbuatan manusia untuk memenuhi kebutuhan biologis dan kebutuhan teknologi sehingga banyak menimbulkan pencemaran lingkungan. Manusia adalah merupakan satu-satunya komponen lingkungan hidup biotik yang mempunyai kemampuan untuk dengan sengaja merubah keadaan lingkungan hidup. Dalam usaha merubah lingkungan hidupnya ini dengan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya dapat menimbulkan masalah yang disebut pencemaran. Manusia juga dapat merubah keadaan lingkungan yang tercemar akibat berbuatannya ini menjadi keadaan lingkungan yang lebih baik, menjadi keadaan seimbang, dapat mengurangi terjadinya pencemaran lingkungan, bahkan diharapkan untuk dapat mencegah terjadinya pencemaran.

      Ditinjau dari segi ilmu kimia yang disebut pencemaran lingkungan adalah peristiwa penyebaran bahan kimia dengan kadar tertentu yang dapat merubah keadaan keseimbangan pada daur materi, baik keadaan struktur maupun fungsinya sehingga mengganggu kesejahteraan manusia. Pencemaran lingkungan ini perlu mendapat penanganan secara serius oleh semua pihak, karena pencemaran lingkungan dapat menimbulkan gangguan terhadap kesejahteraan kesehatan bahkan dapat berakibat terhadap jiwa manusia.

2.7       Pengertian Sungai

        Sungai adalah sistem pengairan air dari mulai mata air sampai ke muara dengan dibatasi kanan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh sungai. Sungai adalah fitur alami dan integritas ekologis, yang berguna bagi ketahanan hidup.

        Menurut Dinas PU, sungai sebagai salah satu sumber air mempunyai fungsi yang sangat penting bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat. sedangkan PP No. 35 Tahun 1991 tentang sungai, Sungai merupakan tempat-tempat dan wadah-wadah serta jaringan pengaliran air mulai dari mata air sampai muara dengan dibatasi kanan dan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh garis sempadan.

     Sungai adalah bagian permukaan bumi yang letaknya lebih rendah dari tanah disekitarnya dan menjadi tempat mengalirnya air tawar menuju ke laut, danau, rawa, atau ke sungai yang lain.

      Bantaran sungai berbeda dengan sempadan sungai. Bantaran sungai adalah areal sempadan kiri-kanan sungai yang terkena/terbanjiri luapan air sungai. Fungsi bantaran sungai adalah tempat mengalirnya sebagian debit sungai pada saat banjir (high water channel). Menurut UU No. 35 1991 tentang sungai, menyebutkan pengertian Bantaran sungai adalah lahan pada kedua sisi sepanjang palung sungai di hitung dari tepi sampai dengan kaki tanggul sebelah dalam. Sehubungan dengan itu maka pada bantaran sungai di larang membuang sampah dan mendirikan bangunan untuk hunian.

     Sedangkan sempadan sungai adalah wilayah yang harus diberikan kepada sungai. Sewaktu musim hujan dan debit sungai meningkat, sempadan sungai berfungsi sebagai daerah parkir air sehingga air bisa meresap ke tanah. Di samping itu, sempadan sungai merupakan daerah tata air sungai yang padanya terdapat mekanisme inflow ke sungai dan outflow ke air tanah. Proses inflow outflow tersebut merupakan proses konservasi hidrolis sungai dan air tanah pada umumnya. Secara ekologis sempadan sungai merupakan habitat di mana komponen ekologi sungai berkembang.

           Kondisi sungai di Indonesia mengalami berbagai permasalahan diantaranya :

  1. Pendangkalan sungai yang disebabkan endapan lumpur akibat erosi.
  2. Sempadan sungai menyempit karena tumbuh permikiman liar di sekitar bantaran sungai.
  3. Rusaknya fungsi sempadan karena dikonversi untuk lahan pertanian, perkebunan, dan perumahan.
  4. Semakin berkembangnya permukiman di sepanjang bantaran sungai, sehingga lingkungan rusak dan kotor.

2.8       Pencemaran Air/ Sungai

           Air dinyatakan tercemar apabila terdapat gangguan terhadap kualitas air sehingga air tersebut tidak dapat di gunakan untuk tujuan penggunaannya.Yang dimaksud dengan air tercemar air adalah air yang telah di masuki makhluk hidup (mikro organisme), zat atau energi akibat kegiatan manusia sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebababkan air tidak berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Berdasarkan peruntukannya, air (tidak termasuk air laut) di bagi empat golongan, yaitu:

  1. Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa ada pengolahan terlebih dahulu.
  2. Golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku untuk air minum.
  3. Golongan C, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan.
  4. Golongan D, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, usaha perkotaan, industri, dan pembangkit tenaga listrik.

      Pencemaran terjadi bila dalam lingkungan terdapat bahan yang menyebabkan timbulnya perubahan yang tidak diharapkan, baik yang bersifat fisik, kimiawi maupun biologis sehingga mengganggu kesehatan eksistensi manusia, dan aktivitas manusia serta organisme lainnya. Bahan penyebab pencemaran disebut bahan pencemar atau polutan.

Faktor-faktor yang menentukan pencemaran :

  1. Jumlah penduduk;
  2. Jumlah sumberdaya alam yang digunakan oleh setiap individu;
  3. Jumlah polutan yang dikeluarkan oleh setiap jenis sumberdaya alam;
  4. Teknologi yang digunakan.

         Pencemaran merupakan sebuah siklus yang selalu berputar dan saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Pada hakikatnya antara aktivitas manusia dan timbulnya pencemaran terdapat hubungan melingkar berbentuk siklus. Agar dapat hidup dengan baik manusia beradaptasi dengan lingkungannya dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia mengembangkan teknologi. Akibat sampingan dari pengembangan teknologi adalah bahan pencemar yang menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan ini merupakan stimulus agar manusia menyesuaikan diri terhadap lingkungan.

Tiap pencemaran mempunyai derajat pencemaran atau tahap pencemaran yang berbeda didasarkan pada :

  1. Konsentrasi zat pencemar
  2. Waktu tercemarnya
  3. Lamanya kontak antara bahan pencemar dengan lingkungan.

Menurut WHO, ditetapkan empat tahapan pencemaran :

  1. Pencemaran tingkat pertama

           Pencemaran yang tidak menimbulkan kerugian pada manusia, baik dilihat dari kadar zat pencemarannya maupun waktu kontaknya dengan lingkungan.

  1. Pencemaran tingkat kedua

      Pencemaran yang mulai menimbulkan iritasi ringan pada pancaindera dan alat vegetatif lainnya serta menimbulkan gangguan pada komponen ekosistem lainnya.

  1. Pencemaran tingkat ketiga

       Pencemaran yang sudah mengakibatkan reaksi pada faal tubuh dan menyebabkan sakit yang kronis.

  1. Pencemaran tingkat keempat

       Pencemaran yang telah menimbulkan dan mengakibatkan kematian dalam lingkungan karena kadar zat pencemar terlalu tinggi. Untuk mencegah terjadinya pencemaran terhadap lingkungan oleh berbagai aktivitas industri dan aktivitas manusia, maka diperlukan pengendalian terhadap pencemaran lingkungan dengan menetapkan baku mutu lingkungan. Baku mutu lingkungan adalah batas kadar yang diperkenankan bagi zat atau bahan pencemar terdapat di lingkungan dengan tidak menimbulkan gangguan terhadap makhluk hidup, tumbuhan atau benda lainnya.

Pencemaran Air, disebabkan oleh :

  1. Limbah Pertanian. Limbah pertanian dapat mengandung polutan insektisida atau pupuk organik. Insektisida dapat mematikan biota sungai. Jika biota sungai tidak mati kemudian dimakan hewan atau manusia, orang yang memakannya akan mati. Untuk mencegahnya, upayakan memilih insektisida yang berspektrum sempit (khusus membunuh hewan sasaran) serta bersifat biodegradable (dapat terurai secara biologi) dan melakukan penyemprotan sesuai dengan aturan. Jangan membuang sisa obat ke sungai. Pupuk organik yang larut dalam air dapat menyuburkan lingkungan air (eutrofikasi), karena air kaya nutrisi, ganggang dan tumbuhan air tumbuh subur (blooming). Hal ini akan mengganggu ekosistem air, mematikan ikan dan organisme dalam air, karena oksigen dan sinar matahari yang diperlukan organisme dalam air terhalang dan tidak dapat masuk ke dalam air, sehingga kadar oksigen dan sinar matahari berkurang.
  2. Limbah Rumah Tangga. Limbah rumah tangga berupa berbagai bahan organik (misal sisa sayur, ikan, nasi, minyak, lemak, air buangan manusia), atau bahan anorganik misalnya plastik, alumunium, dan botol yang hanyut terbawa arus air. Sampah yang tertimbun menyumbat saluran air dan mengakibatkan banjir. Pencemar lain bisa berupa pencemar biologi seperti bibit penyakit, bakteri, dan jamur. Bahan organik yang larut dalam air akan mengalami penguraian dan pembusukan, akibatnya kadar oksigen dalam air turun drastis sehingga biota air akan mati. Jika pencemaran bahan organik meningkat, akan ditemukan cacing Tubifex berwarna kemerahan bergerombol. Cacing ini merupakan petunjuk biologis (bioindikator) parahnya limbah organik dari limbah pemukiman.
  3. Limbah Industri. Limbah industri berupa polutan organik yang berbau busuk, polutan anorganik yang berbuih dan berwarna, polutan yang mengandung asam belerang berbau busuk, dan polutan berupa cairan panas. Kebocoran tanker minyak dapat menyebabkan minyak menggenangi lautan sampai jarak ratusan kilometer. Tumpahan minyak mengancam kehidupan ikan, terumbu karang, burung laut, dan organisme laut lainnya untuk mengatasinya, genangan minyak dibatasi dengan pipa mengapung agar tidak tersebar, kemudian ditaburi dengan zat yang dapat menguraikan minyak.
  4. Penangkapan Ikan Menggunakan racun. Sebagian penduduk dan nelayan ada yang menggunakan tuba (racun dari tumbuhan), potas (racun kimia), atau aliran listrik untuk menangkap ikan. Akibatnya, yang mati tidak hanya ikan tangkapan melainkan juga biota air lainnya

Indikator Pencemaran

       Untuk memantau pencemaran air sungai digunakan kombinasi parameter fisika, kimia dan biologi. Tapi yang sering digunakan hanya parameter fisika seperti temperatur, warna, bau, rasa dan kekeruhan air, ataupun parameter kimia seperti partikel terlarut, kebutuhan oksigen biokimia (BOD), partikel tersuspensi (SS), amonia (NH3). Bahan-bahan polutan bagi pencemaran air dalam bentuk pencemar fisika, kimiawi dan biologis dibagi menjadi 8 kelompok yaitu:

  1. Agen penyebab penyakit (bakteri, virus, protozoa, parasit).
  2. Limbah penghabis oksida (limbah rumah tangga, kotoran hewan dan manusia, bahan organik dan sebagainya).
  3. Bahan kimia yang larut dalam air (asam, garam, logam beracun dan senyawa lain).
  4. Pupuk anorganik (garam nitrat dan fosfat yang terlarut).\
  5. Bahan kimia organik (minyak, bensin, plastik, pestisida).
  6. Bahan sedimen atau suspensi (partikel tanah, pasir dan bahan anorganik lain yang melayang dalam air).
  7. Bahan-bahan radioaktif
  8. Panas

       Zat-zat organik akan mengalami pembusukan menghasilkan senyawa-senyawa lain yang beracun, menurunkan kadar oksigen terlarut, meningkatkan suhu dan menurunkan keasaman (PH), warna air akan berubah menjadi coklat kehitaman dan apabila oksigen benar-benar habis akan mengeluarkan bau busuk yang menyengat. Benda-benda yang dapat menyebabkan turun atau rusaknya kualitas air berasal dari benda-benda yang berbentuk gas adalah sebagai berikut:

  1. Gas Oksigen (O ) atau zat asam; diperlukan untk makhluk hidup yang berada di udara, daratan maupun di dalam air.
  2. Gas lain dalam air (CO , CO, H S): Gas CO terbentuk karena proses pembakaran bahan-bahan minyak, batu bara dan lain-lain kurang sempurna, gas CO yang berada di udara dalam jumlah besar dapat menyebabkan kematian, air tidak terdapat CO, H S terjadi pada proses pembusukan zat-zat organik, penyebab bau busuk.

Ciri-ciri dan Dampak Pencemaran

          Air yang baik adalah air yang tidak tercemar secara berlebihan oleh zat-zat kimia atau mineral terutama oleh zat-zat atau mineral yang berbahaya bagi kesehatan. Adapun beberapa indikator bahwa air sungai telah tercemar adalah sebagai berikut:

  1. Adanya perubahan suhu air. Air yang panas apabila langsung dibuang ke lingkungan akan mengganggu kehidupan hewan air dan mikroorganisme lainnya.
  2. Adanya perubahan pH atau konsentrasi ion Hidrogen. Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai berkisar pH berkisar antara 6,5–7,5.
  3. Adanya perubahan warna, bau dan rasa air. Air dalam keadaan normal dan bersih pada umumnya tidak akan berwarna, sehingga tampak bening dan jernih, tetapi hal itu tidak berlaku mutlak, seringkali zat-zat beracun justru terdapat pada bahan buangan industri yang tidak mengakibatkan perubahan warna pada air. Timbulnya bau pada air lingkungan secara mutlak dapat dipakai sebagai salah satu tanda terjadinya pencemaran. Apabila air memiliki rasa berarti telah terjadi penambahan material pada air dan mengubah konsentrasi ion Hidrogen dan pH air.
  4. Timbulnya endapan, koloidal, bahan terlarut. Bahan buangan yang berbentuk padat, sebelum sampai ke dasar sungai akan melayang di dalam air besama koloidal, sehingga menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam lapisan air. Padahal sinar matahari sangat diperlukan oleh mikroorganisme untuk melakukan fotosintesis.
  5. Adanya mikroorganisme. Mikroorganisme sangat berperan dalam proses degradasi bahan buangan dari limbah industri ataupun domestik. Bila bahan buangan yang harus didegradasi cukup banyak, maka mikroorganisme akan ikut berkembangbiak. Pada perkembangbiakan mikroorganisme ini tidak tertutup kemungkinan bahwa mikroba patogen ikut berkembangbiak pula.
  6. Meningkatnya radioaktivitas air lingkungan. Zat radioaktif dari berbagai kegiatan dapat menyebabkan berbagai macam kerusakan biologis apabila tidak ditangani dengan benar, baik efek langsung maupun efek tertunda.

Akibat yang ditimbulkan oleh pencemaran air antara lain:

  1. Terganggunya kehidupan organisme air karena berkurangnya kandungan oksigen.
  2. Terjadinya ledakan populasi ganggang dan tumbuhan air (eutrofikasi).
  3. Pendangkalan dasar perairan.
  4. Punahnya biota air, misal ikan, yuyu, udang, dan serangga air.
  5. Munculnya banjir akibat got tersumbat sampah.
  6. Menjalarnya wabah muntaber.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1    VARIABEL PENELITIAN

  1. Variabel bebas.

       Pencemaran air sungai disebabkan limbah rumah tangga dan limbah industri.

  1. Variabel terikat.

            Meningkatnya limbah disungai menyebabkan kualitas air sungai semakin berkurang.

 3.2      METODE PENGUMPULAN DATA

            Dengan ini kami mengumpulkan data menggunakan metode observasi dengan        mengamati dan mencatat objeknya.

            Selain itu kami juga melakukan wawancara terhadap warga setempat serta pihak-pihak      lain yang mengetahui lebih banyak informasi mengenai data data yang kami   perlukan.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1       HASIL PENGAMATAN

            Setelah melaksanakan kegiatan observasi, kami mendapatkan informasi-informasi yang berkaitan dengan pencemaran-pencemaran yang terjadi di sungai Sawunggaling yang berdampak pada kualitas sungai tersebut.

Data Primer

  1. Observasi langsung

            Kami melakukan observasi terhadap sungai Sawunggaling di empat titik sepanjang sungai tersebut, berikut adalah hasil dari observasi empat titik yang kami lakukan:

  1. Pada titik pertama yakni di daerah ujung sungai (bagian barat sunga Sawunggaling.)
  2. Warna air sungai : Jernih
  3. Bau air sungai : Tidak berbau
  4. Flora yang hidup : Rumput, bambu, pisang, pohon jati
  5. Fauna yang hidup : Ikan kecil, katak, dan kadal
  6. Limbah pencemar : –
  7. Pada titik kedua yakni di daerah sebelum pabrik dan daerah perumahan warga
  8. Warna air sungai : Jernih sedikit kecoklatan
  9. Bau air sungai : Sedikit tak sedap
  10. Flora yang hidup : Rumput, bambu, pisang
  11. Fauna yang hidup : Ikan kecil, capung, belalang
  12. Limbah pencemar : Sampah rumah tangga
  13. Pada titik ketiga yakni di daerah sekitar pabrik
  14. Warna air sungai : Jernih sedikit keruh
  15. Bau air sungai : Tidak sedap
  16. Flora yang hidup : Rumput-rumput liar, pisang, pohon-pohon besar, bunga-bunga liar
  17. Fauna yang hidup : Ikan kecil, capung, belalang, semut, kupu-kupu
  18. Limbah pencemar : Limbah buangan PG. Pakis
  19. Pada titik ke- empat yakni di daerah setelah pabrik
  20. Warna air sungai : Hitam
  21. Bau air sungai : Sangat tidak sedap
  22. Flora yang hidup : Rumput-rumput liar
  23. Fauna yang hidup : Lalat
  24. Limbah pencemar : Limbah buangan PG.Pakis dan limbah rumah tangga

Data Sekunder

  1. Hasil Wawancara

            Berdasarkan hasil wawancara di tempat observasi,dengan beberapa  responden maka kami menemukan beberapa data deskriftif tentang masalah masalah yang mempengaruhi kualitas air di sungai Sawunggaling, yakni sebagai berikut :

Sungai Sawunggaling sudah ada sejak zaman dahulu,sumber yang kita mintai informasi mengenai keberadaan sungai tersebut tidak begitu mengetahui sejak kapan sungai itu ada sebab sebelum warga yang kita mintai informasi lahir sungai itu sudah ada. Di perkirakan sungai Sawunggaling sudah ada sejak zaman dahulu, kapan tepatnya  menurut sumber masyarakat yang kami mintai informasi tidak ada yang mengetahui kapan sungai tersebut sudah ada.

            Sudah sejak 10 tahun yang lalu sungai Sawunggaling sudah tercemar  sehingga kualitas sungainya pun sudah tidak baik, hal ini diakibatkan sejak berdirinya PG. Pakis, buangan limbah pabrik langsung di buang di aliran sungai sehingga mengakibatkan sungai tercemar. Sampai pada 5 tahun yang lalu kondisinya pun masih sama bahkan kualitas airnya makin parah sebab limbah pabrik dan limbah rumah tangga yang tanpa ada penanganan lebih lanjut.

            Namun menurut warga setempat limbah yang paling mempengaruhi yaitu limbah buangan pabrik. Sehingga merugikan warga setempat di antaranya:bau yang tidak sedap,warna air sungai yang tidak enak di pandang mata, air sungai tidak bisa di manfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari (pengairan sawah, memberi minum ternak, bahkan untuk menyiram tanaman pun masyarakat masih ragu untuk menggunakan air sungai tersebut).

            Bukan itu saja dampak yang di timbulkan dari pencemaran yang mempengaruhi kualitas air,namun juga berdampak pada masyarakat sekitar sungai seperti ketika musim penghujan dengan intensitas curah air hujan yang tinggi,menyebabkan air di sungai tersebut meluap dan mengakibatkan banjir dan air yang meluap tersebut sudah tercemar limbah sehingga ketika air menggenangi pemukiman warga menyebabkan berbagai penyakit kulit seperti gatal-gatal,iritasi kulit,kadas dan berbagai penyakit kulit lainya. Kejadian meluapnya sungai Sawunggaling tersebut terjadi pada tahun 2003 dan tahun 2014 silam.

            Menurut warga setempat, selama sungai tersebut ada sampai sekarang belum pernah diadakanya upaya-upaya perbaikan kerusakan sungai serta tindakan untuk memperbaiki kualitas air sungai. Misal saja diadakan pelebaran atu pendalaman sungai,kemudian gotong royong untuk membersihkan sungai dari limbah-limbah tercemar dalam skala waktu tertentu. Bahkan dari pihak pabrik pun tidak ada upaya-upaya untuk mengatasi limbah pabrik agar tidak mencemari air sungai dan mengganggu masyarakat sekitar sungai.

            Meskipun masyarakat terganggu oleh pencemaran air yang di sebabkan oleh limbah pabrik dan limbah rumah tangga,mereka juga sadar pencemaran juga di sebabkan oleh ulah mereka sendiri. Masyarakat masih saja membuang sampah pada sungai kesadaran mereka mengenai kualitas sungai Sawunggaling pun masih rendah. Hal ini mereka lakukan juga karena dilatar belakangi oleh tidak pernah diadakannya sosialisasi dan himbauan dari desa mengenai pentingnya kualitas air sungai.

4.2       PEMBAHASAN

Identitas Sungai

            Dalam observasi yang kelompok kami lakukan, kami mengambil sampel sungai Sawunggalingi yang berada di Pakis, kec. Tayu, kab. Pati. Sungai Sawunggaling mengalir dari hulu di daerah Gunung Muria menuju ke daerah Pakis kemudian ke laut. Dengan panjang sekitar 4 kilometer, dengan lebar sekitar 6 meter, serta kedalaman sekitar 3 meter. Kami mengobservasi sungai ini karena melihat kondisi sungai yang cenderung sudah tercemar dan dipertanyakan kualitas air di sungai tersebut. Kami observasi langsung untuk melihat lebih jelas kondisi sungai sebenarnya serta  untuk mendapatkan informasi yang lebih lanjut dan lebih akurat mengenai sungai yang kami observasi kami juga melakukan wawancara dengan warga sekitar sungai Sawunggaling tersebut.

            Selama observasi yang kami lakukan disepanjang sungai Sawunggaling, kami melihat keadaan sungai melalui empat titik yang kami ambil untuk mendapatkan sebuah kebenaran yang mewakili keadaan sungai Saawunggaling tersebut. Dari keempat titik yang kami ambil tersebut yang hasil pengamatannnya dapat dilihat pada hasil pengamatan yang telah dipaparkan diatas kami dapat mengetahui bahwa kualitas sungai Sawunggaling tersebut yang airnya telah tercemar hanya di beberapa titik saja bukan di sepanjang aliran sungai. Titik yang kami maksud  adalah di daerah sekitar permukiman warga, daerah sekitar pabrik, serta didaerah stelah pabrik. Berikut pemaparan mengenai limbah-limbah yang mempengaruhi kualitas air sungai Sawunggaling berdasrkan hasil observasi yang telah kami lakukan:

  1. Limbah rumah tangga berupa berbagai bahan organik (misal sisa sayur, ikan, nasi, minyak, lemak, air buangan manusia), atau bahan anorganik misalnya plastik, alumunium, dan botol yang hanyut terbawa arus air. Sampah yang tertimbun menyumbat saluran air dan mengakibatkan banjir. Pencemar lain bisa berupa pencemar biologi seperti bibit penyakit, bakteri, dan jamur. Bahan organik yang larut dalam air akan mengalami penguraian dan pembusukan, akibatnya kadar oksigen dalam air turun drastis sehingga biota air akan mati. Masalah ini terjadi hampir di setiap rumah dan hanya dibuang begitu saja tanpa adanya pengolahan lebih lanjut. Masalah ini terjadi karena tidak tersedianya tempat pembuangan akhir (TPA) di dekat desa serta tidak adanya kesadaran masyarakat untuk membuat sendiri TPA di desa tersebut.
  2. Limbah buangan pabrik, limbah yang dibuang langsung ke sungai sangat mempengaruhi kualiatas sungai tersebut. Limbah yang dihasilkan mengandung padatan tersuspensi maupun terlarut, akan mengalami perubahan fisika, kimia, dan hayati yang akan menghasilkan zat beracun atau menciptakan media untuk tumbuhnya kuman dimana kuman ini dapat berupa kuman penyakit atau kuman lainnya yang merugikan tubuh manusia. Limbah ini dibiarkan dalam air sungai sehingga air sungai berubah warnanya menjadi coklat kehitaman dan berbau busuk. Bau busuk ini akan mengakibatkan sakit pernapasan. Limbah ini dialirkan ke sungai sehingga mencemari sungai dan bila masih digunakan maka akan menimbulkan penyakit gatal, diare, dan penyakit lainnya.Mungkin macam  polutan yang dihasilkan berupa polutan organik (berbau busuk), polutan anorganik (berbuih, berwarna), atau mungkin berupa polutan yang mengandung asam belerang (berbau busuk), atau berupa suhu (air menjadi panas).

            Kualitas air sungai di sungai Sawunggaling menurut observasi yang kami lakukan kualitas air sungai tersebut di aliran sekitar pabrik sudah tercemar yang menjadi faktor utamanya sudah tentu berasal dari limbah pabrik. Sungai yang telah tercemar tersebut berdampak pada keadaan sekitar sungai. Sehingga merugikan warga setempat yang di antaranya: bau yang tidak sedap yang di timbulkan oleh air tercemar, warna air sungai yang tidak enak di pandang mata yakni bewarna hitam pekat, air sungai tidak bisa di manfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari (pengairan sawah, memberi minum ternak, bahkan untuk menyiram tanaman pun masyarakat masih ragu untuk menggunakan air sungai tersebut).

            Meskipun menurut pihak pabrik limbah pabrik yang dibuang ke sungai tidak berbahaya dan mengganggu karena sudah diolah, namun jika dilihat pada kenyataannya meneurut kami dan keluhan dari warga setempat limbah pabrik sangat mencemari dan mengganggu, meskipun kami tidak mengetahui seberapa tingkat bahaya yang ditimbulkan karena kami tidak melakukan uji lebih lanjut, namun jika di amati  langsung sungai kualitas airnya sangat rendah, warna hitam serta bau yang tidak sedap yang ditimbulkan merupakan buktinya.

            Bukan itu saja dampak yang di timbulkan dari pencemaran yang mempengaruhi kualitas air,namun juga berdampak pada masyarakat sekitar sungai seperti ketika musim penghujan dengan intensitas curah air hujan yang tinggi,menyebabkan air di sungai tersebut meluap dan mengakibatkan banjir dan air yang meluap tersebut sudah tercemar limbah sehingga ketika air menggenangi pemukiman warga menyebabkan berbagai penyakit kulit seperti gatal-gatal,iritasi kulit,kadas dan berbagai penyakit kulit lainya. Kejadian meluapnya sungai Sawunggaling tersebut terjadi pada tahun 2003 dan tahun 2014 silam.

            Sebenarnya masyarakat sekitar ingin sungai sawunggaling tersebut tidak ingin ikut mencemari lingkungan sekitar sungai akan tetapi kesadaran masyarakat di sekitar sungai tersebut masih rendah. Banyak masyarakat yang membuang sampah di sekitar sungai sehingga berdampak pada kualitas sungai yang pada akhirnya juga merugikan mereka sendiri. Hal tersebut di paparkan oleh masyarakat di sekitar sungai yang kami wawancarai.

            Meskipun masyarakat terganggu oleh pencemaran air yang di sebabkan oleh limbah pabrik dan limbah rumah tangga,mereka juga sadar pencemaran juga di sebabkan oleh ulah mereka sendiri. Masyarakat masih saja membuang sampah pada sungai kesadaran mereka mengenai kualitas sungai Sawunggaling pun masih rendah. Hal ini mereka lakukan juga karena dilatar belakangi oleh tidak pernah diadakannya sosialisasi dan himbauan dari desa mengenai pentingnya kualitas air sungai.

            Pemerintah pun tidak ada upaya-upaya yang dilakukan untuk menanggulangi  masalah tersebut. Padahal telah banyak keluhan-keluhan dari masyarakat menegenai masalah tersebut. Misal saja upaya pembersihan sungai dari sampah sampah rumah tangga yang mudah penangannya dari pada limbah pabrik. Kemudian diadakanya sosisalisasi bagi masyarakat mengenai pentingnya kualitas air sungai, kemudian memberi himbauan-himbaun kepada masyarakat juga di buatkan TPA serta upaya-upaya lain yang dapat menanggulagi atau bahkan mencegah terjadinya masalah tersebut.

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1       KESIMPULAN

  1. Kualitas air sungai di sungai Sawunggaling telah tercemar di beberapa titik terutama disekitar PG. Pakis Baru serta perumahan warga, penyebabnya antara lain limbah buangan PG. Pakis Baru serta limbah-limbah rumah tangga yang di buang masyarakat sekitar sehingga menimbulkan bau tak sedap serta warna hitam kotor.
  2. Kesadaran masyarakat yang rendah akan pentingnya kualitas air sungai sehingga mengacuhkan begitu saja semakin menambah buruknya dampak yang ditimbulkan sebab tidak ada tindakan yang dilakukan.
  3. Tidak adanya upaya-upaya pemerintah untuk mempertahankan kualitas air sungai Sawunggaling akan mengakibatkan kualitas sungai yang makin parah buruknya.

5.2       SARAN

  • Jagalah kualitas air sungai di lingkungan rumah dan sekitar agar tetap bersih dan terhindar dari pencemaran air karena akan berdampak pada kita sendiri juga.
  • Jangan membuang sampah ke sungai, buanglah sampah pada tempatnya agar tidak terjadi pencemaran air.
  • Untuk limbah industri, sebelum dibuang sebaiknya diolah terlebih dahulu sampai limbahnya benar-benar tidak mengganggu berbagai pihak.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

a
Peta sungai Sawunggaling

b
Titik bulat bewarna kuning adalah titik dimana kami melakukan pengamatan terhadap sungai

c
Pengamatan pada titik pertama yakni sebelum pabrik

d
Pengamatan pada titik kedua yakni daerah sekitar perumahan

e
Pengamatan pada titik ketiga yakni di daerah sekitar pabrik

f
Pengamatan pada titik keempat yakni di daerah setelah pabrik

g
Kejernihan air di titik yang belum tercemar

iPembuangan limbah dari pabrik

k
Limbah rumah tangga

l
Limbah rumah tangga

m
Jembatan sungai Sawunggaling

n

q

r

s

Beberapa flora dan fauna yang masih hidup didaerah sekitar sungai

v

t

u
Lingkungan PG.Pakis Baru

 

Iklan

Penulis:

I will fight till the end & never give up !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s